Setelah menemukan model, penulis mencari bahannya, yaitu papan kayu. Di karenakan papan kayu kalimantan mahal, maka penulis mencari kayu lokal. Dan akhirnya mendapatkan kayu jenis trembesi di depot kayu kecil di desa penulis. Berhubung depot kecil, jenis papannyapun kurang bagus. Baik di segi pemotongan, maupun kwalitas bahan. Maksudnya, pohonnya masih berukuran kecil, jadi kemungkinan kayunya masih muda. Papan yang penulis beli, tidak bagus semuanya. Sehingga perlu di pilih, untuk bagian-bagian tertentu. Baik lebar maupun tebal papannya. Penulis memilih untuk bagian atas meja dan bagian depan meja dengan papan yang penulis anggap baik. Ketebalan dan serat kayunya hampir sama dan sejenis. Papan di potong sesuai dengan rencana peruntukan, di tambah 1cm dari ukuran jadi. Maksudnya, apabila papan di peruntukan pada bagian atas, dengan panjang meja jadi 120cm, maka papan dipotong 121 cm. Hal ini untuk persiapan potong jadi nanti, mengingat setelah proses penghalusan dan pemotongan yang akurat, akan terjadi perobahan sudut, ketebalan dan lebar papan.

Serta untuk menghindari cacat pada ujung papan akibat benturan, ataupun pemotongan yang kurang siku. Dalam proses ini, penulis menggunakan alat konvensional, yaitu berupa alat serut dari kayu. Penulis menggunakan 2 pasah /unduk / alat serut (planner). Yang satu untuk posisi muka papan, yang satu untuk sisi papan. Hal ini penulis lakukan karena sisi-sisi papan sangat berbeda kerataannya dan serat kayunya. Papan yang penulis beli lebarnya hanya 20 cm, setelah di serut dan di ratakan sisi-sisinya, akan tersisa menjadi 19 cm. Dan dari 19 cm tersebut, di butuhkan lebar 60cm, maka di butuhkan kurang lebih 4 papan. 3 cm, lebar papan satuan yang di butuhkan. Papan di adu sesuai dengan rencana bentuk meja, dan peruntukan sisi-sisi meja. Aduan untuk atas meja, sisi kanan dan kiri meja, penutup belakang meja, pintu-pintu partisi meja harus di susun sedemikian rupa, persis seperti skema rencana yang di buat berdasarkan model yang di jadikan contoh. Setelah papan-papan di adu sesuai dengan sisi-sisi meja, maka di adu atau di rakit sehingga membentuk sebuah meja yang sesuai dengan model yang di jadikan contoh.

Pada bagian ini di butuhkan kesabaran tersendiri, dan di tambah bakat tersendiri, karena apabila tidak sabar dan kurang perhitungan, maka akan terjadi aduan yang sangat kasar, yang menghasilkan pekerjaan yang tidak pas pada tempat-tempat penyambungan. Bahkan bisa jadi proyek akan berantakan karena pemaksaan aduan yang tidak benar. Dalam proses ini juga, seluruh ukuran panjang dan lebar papan adalah ukuran jadi, atau matang. Maka ukuran-ukuran papan yang tadinya masih tersisa beberapa mm ataupun cm, sebagai toleransi kesalahan hitungan dan penyikuan harus di hilangkan. Dan pekerjaan menjadi lebih presisi dan di butuhkan perhitungan yang lebih hati-hati, untuk menghindari kesalahan pemotongan. Penulis tidak menggunakan sistim bobokan dalam pengaduan. Murni dengan tempel dan paku, paku yang di gunakan sebagian adalah paku cun ( paku ulir ). Agar aduan lebih kencang dan papan bisa saling menarik hingga titik aduan bisa menjadi rapat. Pengamplasan di lakukan setelah semua bagian meja sudah di rakit. Gunakan amplas kasar terdahulu, dengan searah serat, dan mengambang, tujuan dari pengamplasan kasar adalah untuk memotong serat kayu yang timbul, juga bisa untuk meratakan muka kayu yang masih kasar ataupun beda tebal papan yang sangat tipis.

Kemudian amplas kedua, grade 280C ( 200-400 C), di kerjakan juga searah dengan serat kayu, agak di tekan, karena amplas grade ini agak halus. Amplas di ganti apabila sudah halus dengan tanda-tanda pada amplas sudah berwarna seperti warna kayu, dan tidak lagi mempan terhadap kayu. Plamir / dempul permukaan papan secara tipis dan merata. Plamir bisa satu bahan dengan dempul hanya dempul lebih kental. Ukuran kekentalan plamir adalah bisa di ambil dengan skrap tanpa meluber, dan tidak menggumpal atau tidak seperti acian semen. Cukup seperti lem kayu putih. Di sini penulis membuat plamir/dempul sendiri dengan bahan semen putih, lem kayu putih, dan air secukupnya untuk mengatur kekentalan, dengan perbandingan 3 : 1 : secukupnya. Jangan terlalu banyak lem kayunya, karena akan menghalangi meresapnya cat/plistur nantinya. Karena keringnya lem kayu sangat sulit di bersihkan dengan amplas halus, kalau dengan amplas kasar akan merusak kembali permukaan papan. Setelah di plamir, amplas kembali hingga halus kembali.